ISPIKANI: Blok Masela Bisa Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Biru Maluku, Asal Migas dan Perikanan Berjalan Beriringan
Ambon, indonesiatimur.co – Groundbreaking Proyek LNG Blok Masela dinilai bukan sekadar penanda dimulainya pembangunan salah satu proyek strategis nasional terbesar di Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar bagi transformasi ekonomi Maluku berbasis energi dan kelautan.
Pandangan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal III DPP Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI), Amrullah Usemahu, yang memberikan apresiasi atas pelaksanaan groundbreaking LNG Blok Masela pada 16 Juli 2026. Peresmian proyek dilakukan Presiden Republik Indonesia secara virtual dari Istana Kepresidenan, sementara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia hadir langsung di lokasi bersama jajaran pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Menurut Amrullah, dimulainya pembangunan proyek tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia, khususnya Provinsi Maluku.
“LNG Blok Masela diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pembangunan sektor migas harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir,” katanya, Sabtu (18/07/2026).
Ia menegaskan, kawasan Laut Arafura yang dikenal sebagai The Golden Fishing Ground merupakan salah satu wilayah perikanan paling produktif di Indonesia. Karena itu, pengembangan industri migas harus diselaraskan dengan kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan agar keduanya saling memperkuat.
Amrullah melihat kehadiran LNG Blok Masela dapat menjadi katalis bagi lahirnya pusat-pusat industri perikanan modern di Maluku melalui pendekatan blue economy atau ekonomi biru.
Menurutnya, pembangunan pelabuhan, jaringan listrik, jalan, hingga fasilitas logistik yang menyertai proyek tersebut akan memperkuat rantai pasok industri perikanan. Fasilitas seperti cold storage, pabrik es, sentra pengolahan hasil laut, hingga kawasan hilirisasi dinilai akan berkembang lebih cepat dengan dukungan energi yang memadai.
“Selama ini salah satu kendala utama pengembangan industri perikanan di Maluku adalah keterbatasan pasokan energi. Akibatnya, banyak unit pengolahan ikan, termasuk industri pengalengan, masih terpusat di Pulau Jawa. Padahal industri semestinya berada dekat dengan sumber bahan baku. Kehadiran Blok Masela diharapkan mampu mengubah kondisi tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, ISPIKANI mengingatkan agar pembangunan proyek migas tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan. Potensi dampak terhadap lingkungan laut, ruang tangkap nelayan, habitat ikan, hingga risiko pencemaran harus diantisipasi sejak awal.
“Keberhasilan proyek ini tidak hanya diukur dari besarnya investasi dan produksi gas, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kelestarian ekosistem laut serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir. Perlindungan lingkungan, pengawasan kualitas perairan, penataan ruang laut, serta pemberdayaan nelayan harus menjadi bagian integral dari pelaksanaan proyek,” tegas Amrullah.
ISPIKANI juga mendorong pemerintah, pelaku industri migas, akademisi, dan organisasi profesi memperkuat kolaborasi dalam merancang program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar penguatan sektor perikanan, peningkatan kapasitas nelayan, pengembangan budidaya laut, hingga hilirisasi produk perikanan.
“Blok Masela harus menjadi simbol bahwa pembangunan energi dan pembangunan kelautan serta perikanan tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan. Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan, proyek ini dapat menjadi contoh nyata integrasi antara ketahanan energi nasional dan penguatan ekonomi biru Indonesia,” pungkasnya.
ISPIKANI berharap momentum groundbreaking LNG Blok Masela menjadi titik awal lahirnya era baru pembangunan Maluku, di mana provinsi ini tidak hanya dikenal sebagai lumbung energi nasional, tetapi juga berkembang menjadi pusat industri kelautan dan perikanan modern yang berdaya saing, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara inklusif. (it-02)
